Saturday, August 6, 2011

Sustainable development

Sustainable development is a new term that grew out of the conservation/environmental movement of the 1970's. While the conservation/environmental movement asked questions about preserving the Earth's resources, sustainable development includes questions about how human decisions affect the Earth's environment.
At this moment, sustainable development means different things to different people/groups. The most widely held definition is that of the Brundtland Commission Report of 1987 which stated we must " meet the needs fo the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs". In other words, when people make decisions about how to use the Earth's resources such as forests , water, minerals, gems, wildlife, etc., they must take into account not only how much of these resources they are using, what processess they used to get these resources., and who has access to these resources.




Fresh water is a precious resource. Without proper drinking water, diseases such as cholera, dysentery and infectious hepatitis can develop and wipe out entire populations of people. People's access to fresh water sources is a key issue to the world's sustainability. One scientist who is working toward the goal of sustainable development, particularly in developing countries is Ashok Gadgil. Because he has witnessed the massive health problems due to the lack of fresh water supplies in his own home country of India, he worked on a solution to the problem and eventually invented the UV waterworks machine. Gadgil took what he knew about the destructive ability of UV light on living things and applied it in a positive way. UV light naturally destroys germs, viruses, and other pathogens by disrupting the organisms' DNA and thus their ability to reproduce. Standard fluorescent lamp technology can be used as a disinfecting system. Currently, water is boiled to eliminate unwanted germs. To boil water in rural areas of developing countries, it is customary to use wood as fuel. This increases air pollution as well as deforestation. With this new disinfecting machine, Gadgil found that it takes 40,000 times less primary energy than boiling water over a cook stove. He developed this machine to be inexpensive to make and operate making it accessible to developing countries where clean fresh water is hard to find.


 Energy, in its various forms, is very critical to continuing many of life's activities. One of the key issues facing the world is maintaining our supplies of energy resources for future generations. With the current rate of consumption, our energy resources will be depleted in the not too distant future. One scientist, Mark Levine, who is head of the Energy Analysis Program (EAP), is investigating global energy and environmental issues which is one of five components of the EAP.When asked how his department is contributing to sustainable development, Levine discussed four significant projects: promoting energy efficiency in China, energy efficiency in the industrial world, climate change impact, and creating a non-profit sustainable development institute at the Presidio, called the Presidio Pacific Center.
According to Levine, because China has the largest population in the world, the direction it takes in energy conservation will have a huge impact on the world at-large. For instance, Levine's department is trying to create a standard for energy-efficient refrigerators in China. Recall that refrigerators consume the most energy in households. If you imagine China, with its massive population how much energy is being consumed on a daily basis. Also, Chlorofluorocarbons (CFCs) which come from lost coolants from air conditioners and refrigerators are a greenhouse gas contributing to global climate change.
Another project that Levine is pursuing is the development of the Presidio Pacific Center which would assist in training third world technicians in energy efficient technology. Levine believes that developed countries such as the United States have an obligation to lend their acquired technological knowledge to developing countries. Developing countries will flourish if they choose to use their technology in a sustainable manner.


Bioremediation is a new treatment technology to clean up contaminated environments through the use of microorganisms. The natural predatory characteristics of the organisms are utilized to either destroy or change hazardous contaminants to a less harmful form. This technology has proven to recover contaminated sites in a more cost effective manner with less risks to humans than conventional methods.Two cleaning methods have been used--in situ treatment methods degrade or change contaminants in place while ex situclean-up methods require the contaminants to be removed from the site to be clean-up somewhere else.
Examples of toxic wastes that have been cleaned-up through bioremediation are oil, sewage, pesticides, and agricultural chemicals.
One laboratory which researches bioremediation is the Lawrence Berkeley National Laboratory at the Center for Environmental Biotechnology. This laboratory is relatively new and participates in two different areas.
One area is to facilitate and coordinate interdisciplinary projects for six divisions and 70 scientists at LBNL. These interdisciplinary teams share their expertise to further the success of the projects. Imagine dealing with all the different problems associated with environmental pollution. Developing clean-up methods requires the attention and expertise of a variety of different scientists. For example in a toxic waste spill, a geologist would know the effects of pollution on the soil whereas a biologist would be able to assess the human risks associated with a particular pollutant.
The second area is to research microorganisms and bioremediation. Researchers are interested in the behavior of microorganisms in various polluted environments. They are researching how a microorganism has the capability of surviving in a polluted environment as well as how it uses the pollutant as a nutrient.

Rukun perjalanan menuju Allah, melalui ilmu dan zikir

Rukun perjalanan menuju Allah, melalui ilmu dan zikirProf Madya Dr Musa Fathullah Harun

Almarhum Dr Sa’id Hawa menjelaskan bahawa perjalanan menuju Allah mempunyai dua rukun, iaitu ilmu dan zikir. Tanpa keduanya, tidak ada perjalanan menuju Allah SWT.
Ilmu adalah yang menerangi jalan dan zikir adalah bekal perjalanan dan keperluan pendakian. Kita berhajat kepada ilmu untuk mengenali segala perintah, petunjuk, bimbingan dan peringatan Allah SWT dan mengenali hikmatnya agar kita dapat melaksanakan segala perintah tersebut serta mencapai hikmatnya, manakala kita berhajat kepada zikir agar Allah SWT bersama kita dalam perjalanan kita menuju kepadaNya.

Rukun pertama: Ilmu

Bukanlah menjadi satu keraguan bahawa apa yang dimaksudkan dengan ilmu ialah ilmu tentang al-Qur’an dan al Sunnah serta ilmu tentang segala yang diperlukan oleh Salik dalam perjalanannya menuju Allah SWT. Sekurang-kurangnya setiap salik mestilah melengkapkan dirinya dengan kesemua ilmu fardu ‘ain, iaitu ilmu yang setiap muslim dituntut mempelajarinya.
Setiap muslim wajib mengetahui segala perbuatan yang wajib dilakukannya, agar ia tidak meninggalkannya; dan juga perbuatan yang haram dilakukannya, agar ia terhindar daripada melakukannya. Setiap perbuatan yang wajib dilakukan, maka mempelajari ilmunya juga menjadi wajib, Ini adalah kerana tanpa ilmu tentang sesuatu, maka seseorang tidak mungkin dapat melakukan sesuatu itu dengan betul, sesuai dengan kehendak syariat.

Imam Ghazali mengingatkan kita di dalam kitabnya Ihya Ulum Al-Din, bahawa di antara ilmu yang wajib dipelajari ialah ilmu mengenai jalan menuju ke akhirat. Apa yang dimaksud ilmu menuju jalan ke akhirat ialah ilmu cara membersihkan hati atau jiwa daripada sifat-sifat yang keji, yang tercela, yang dianggap sebagai kotoran yang menjadi penghalang daripada mengenali Allah SWT dan daripada mengenali sifat-sifat dan af’al atau perbuatan-perbuatanNya. Tidak ada jalan untuk ke sana melainkan dengan latihan, ilmu dan pengajaran.

Ilmu tersebut terbahagi kepada dua bahagian:

Pertama: Ilmu zahir, iaitu ilmu yang berkaitan dengan amalan anggota badan, dan ia terbahagi kepada adat dan ibadat.

Kedua: ilmu batin, iaitu ilmu yang berkaitan dengan amalan hati atau jiwa, atau ilmu tentang sifat-sifat yang ada di dalam hati atau jiwa, yang juga terbahagi kepada yang terpuji dan tercela.

Sifat-sifat yang terpuji di dalam hati adalah seperti: sabar, syukur, takut, harap, redha, zuhud, taqwa, qana’ah (menerima dan berpuas hati dengan yang ada atau dengan apa yang Allah berikan), murah hati, ihsan, baik sangka, baik budi,baik pergaulan, jujur, ikhlas dan sebagainya, yang merupakan sumber atau punca daripada segala perbuatan taat dan ibadat kepada Allah SWT.

Adapun yang tercela daripadanya adalah seperti; dengki, dendam, busuk hati, penipu, gila pangkat, gila harta, gila kuasa, gila pengaruh, suka dipuji, sombong, riya’, keras kepala, pemarah, benci, tamak kedekut, kufur ni’mat, mengagungkan orang kaya, bangga, ujub, nifaq (hipocracy),cintakan dunia, cinta harta, gopoh,lalai dan sebagainya, yang merupakan sumber atau punca daripada segala perbuatan ma’siat dan lain-lain perbuatan buruk atau keji, yang dilarang.

Ilmu tentang batasan segala sifat-sifat ini, sama ada yang terpuji ataupun yang tercela, hakikat, sebab-sebab, hasil atau natijahnya, cara memupuk, menanam, atau cara mengubati, membuang atau mengikis daripada sifat-sifat tercela, kesemuanya itu merupakan ilmu jalan akhirat; dan Imam Ghazali mengatakan bahawa ia merupakan ilmu fardu ain, mengikut fatwa ulama akhirat.

Rukun kedua: Zikir

Adapun yang dimaksudkan dengan zikir ialah zikir yang diwariskan atau dianjurkan, yang termasuk di dalam perintah Allah SWT dan RasulNya SAW.

Imam Nawawi di dalam kitabnya, Al-Adzkaar, telah menjelaskan pengertian zikir sebagai berikut:

“Ketahuilah bahawa fadilat zikir tidak terhad pada tasbih, tahlil, tahmid, takbir dan yang seumpamanya, tetapi setiap orang yang beramal kerana Allah Taala dengan ketaatan, maka ia termasuk orang yang berzikir kerana Allah Taala. Begitulah yang dikatakan oleh Sa’id Bin Jubair r.a. dan lain-lain ulama”.

‘Ata’ berkata: “Majlis-majlis zikir adalah majlis-majlis yang membincangkan masalah halal, haram, bagaimana anda membeli, menjual, solat, berpuasa, berkahwin, mentalak, haji dan yang seumpamanya”.
Beliau juga telah membawakan hadis yang diriwayatkan daripada Abu Sa’id Al-Khudri r.a. bahawa

Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila seorang lelaki membangunkan isterinya pada waktu malam, kemudian keduanya solat dua rakaat, maka keduanya ditulis dalam golongan orang-orang yang banyak berzikir kepada Allah”.

Maka kedua rukun berjalan menuju Allah menurut Sa’id Hawa adalah ilmu dan zikir; dan tidak akan ada perjalanan melainkan dengan keduanya.

Walau bagaimanapun, perlu diketahui bahawa para salik yang menempuh jalan menuju Allah itu terbahagi kepada dua golongan. Golongan yang pertama lebih banyak melibatkan diri mereka kepada Allah SWT disamping tidak melalaikan tanggungjawab mereka dalam menuntut ilmu agama sebagaimana yang dituntut oleh syara’.

Manakala golongan yang kedua pula mendekatkan diri mereka kepada Allah SWT dengan bertungkus-lumus mendalami ilmu agama disamping tidak mengabaikan keperluan untuk berzikir. Akhirnya, mereka semua (insya Allah) akan sampai ke satu arah tuju yang sama iaitu mencapai keredhaan Allah dan mendekatkan diri kepadaNya.

Beliau menjelaskan bahawa pembahagian tersebut adalah disebabkan kerana adanya perbezaan pada kecenderungan atau minat dan kemampuan atau kesanggupan manusia itu sendiri. Segolongan manusia, kecenderungan atau minatnya kepada ilmu lebih besar dan juga kemampuannya untuk mencapai ilmu tersebut ada, dan segolongan lainnya kemampuannya untuk mencapai ilmu terhad dan kesanggupannya untuk beribadat, beramal dan berzikir adalah besar.

Jalan yang sesuai bagi golongan yang pertama adalah ilmu, tetapi mesti juga disertai dengan zikir; dan jalan yang sesuai bagi golongan yang kedua adalah memperbanyak zikir, tetapi mesti juga disertai dengan ilmu.
Daripada huraian tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahawa setiap manusia yang berjalan menuju Allah atau mencari keredhaan dan keampunan Allah, yang dengannya dicapai kebahagiaan akhirat dan terhindar daripada seksaan neraka, mestilah berusaha, selain mengisi masanya dengan melaksanakan tugas peribadatan yang telah ditetapkan, seperti solat lima waktu, puasa ramadan dan lain-lainnya, juga dengan kegiatan menuntut ilmu dan berzikir.

Ia mesti menjadikan kegiatan menuntut ilmu dan berzikir ini sebagai agenda hariannya yang berterusan sepanjang hayat, kerana kedua-duanya merupakan ibadat yang sangat tinggi nilainya. Setiap salik mestilah berusaha menghindarkan diri daripada membazirkan masanya dengan sebarang perbuatan yang tidak ada manfaatnya seperti melepak di kedai-kedai kopi, berbual kosong dan kerja-kerja yang seumpamanya.
Di dalam sesuatu hadis, ada dinyatakan bahwa tanggung jawab pertama yang akan disoal ke atas setiap insan ialah tentang umurnya: di mana ia telah menghabiskannya? Di dalam surah al-’Asr Allah SWT telah menyatakan dengan bersumpah: “Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman dan (mengisi masanya dengan)beramal soleh, serta berpesan-pesan dengan kebenaran dan berpesan-pesan dengan kesabaran”.

Setiap salik mesti menentukan masa yang tetap setiap hari untuk menuntut ilmu dan berzikir: menetapkan masa tertentu untuk membaca al-Qur’an dan memahami maknanya. Mereka boleh merancang untuk mengkhatamkan Al-Qur’an setiap seminggu sekali, dua minggu sekali, sebulan sekali atau lain-lainnya, mengikut kemampuan dan kesanggupan masing-masing. Perkara yang penting di sini ialah mereka menetapkan agenda yang tetap dan berterusan sepanjang hayat.

Membaca Al-Qur’an adalah ibadat dan zikir, dan memahami kandungannya adalah ilmu yang paling tinggi nilainya.

Selain mempelajari Al-Qur’an, mereka juga mesti berusaha mempelajari ilmu-ilmu syari’at lainnya dengan membaca kitab-kitab agama, menghadiri kelas-kelas agama, ceramah-ceramah agama, atau mempelajari agama daripada guru-guru agama yang memberi bimbingan secara langsung kepada para pelajar atau murid-muridnya.

Menuntut ilmu dalam Islam merupakan ibadat yang dituntut dan tinggi nilainya. Ibnu ‘Abd al-Bar telah meriwayatkan daripada Abu Dzarrin al-Ghiffari r.a. bahawa Rasulullah SAW bersabda; “Bahawa anda keluar di waktu pagi untuk mempelajari satu bab daripada ilmu adalah lebih baik daripada anda solat seratus rakaat”.

Kita mesti menetapkan agenda harian yang tetap, dengan memperuntukkan masa tertentu yang mencukupi untuk menuntut ilmu serta membaca kitab-kitab ilmiyah. Di dalam Islam, agama itu sendiri adalah ilmu dan ilmu adalah agama. Agama adalah ilmu kerana ia berdiri di atas asas pemikiran, penyelidikan, menolak taklid buta dan bersandar kepada pembuktian yang meyaqinkan, bukan kepada sangkaan dan mengikuti hawa nafsu.

Begitu juga ilmu dalam Islam, ianya adalah agama, kerana menuntutnya adalah diwajibkan ke atas setiap muslim dan muslimah sama ada sebagai fardu’ain atau fardu kifayah, dan bergiat dalam bidang ilmu yang bermanfaat, sama ada manfaat duniawi atau ukhrawi, dianggap sebagai ibadat dan jihad di jalan Allah.
Adapun zikir, maka ia merupakan amalan yang berterusan kerana, selain ia merupakan amalan tersendiri, ia juga boleh masuk ke dalam atau ke celah-celah amalan-amalan lain dan boleh mengisi setiap masa yang terluang dari sejak kita bangun dari tidur sehinggalah kita naik semula ke katil untuk tidur.

Perbekalan Rabbani Dalam Perjalanan: Taqwa, Muhsabah Diri dan Taubat.

Di dalam perjalanan yang panjang merentasi kehidupan di alam dunia, mencari keredhaan Allah SWT, supaya dapat memasuki alam barzakh dan alam akhirat dengan selamat, Rabbani berhajat kepada perbekalan, dan tidak ada perbekalan yang lebih baik daripada ketaqwaan. Allah SWT telah berfirman di dalam surah Al-Baqarah:197:

“Dan hendaklah kamu membawa bekal dengan cukupnya, sesungguhnya sebaik-baik bekal itu ialah taqwa (ketaqwaan); dan bertaqwalah kepadaku wahai orang-orang yang berakal”.

Di dalam bab ini, saya ingin membicarakan tentang perbekalan yang mesti ada pada setiap rabbani dalam perjalanannya menuju Allah al-Rabb al-Jalil, sebagaimana yang diperintah oleh Allah SWT, iaitu taqwa atau ketaqwaan dan yang merupakan cawangan daripadanya, iaitu muhasabah diri dan taubat.

source:ustaz azhar

Saturday, March 26, 2011

Future of transportation

Future of Transportation

On the outer fringes of the personal rapid transit system just described, the network of lines in the lower density areas, to remain economical, would probably be too far apart for convenient walking access, and unsuitable for short neighborhood or local trips. The new systems study found the dual mode vehicle system to offer a possible solution to these problems.

In a dual mode system, the vehicle can convert easily from travel on a street to travel on an automated network. It thus could serve as a logical extension or elaboration of personal rapid transit.

The dual mode vehicles could operate on the parts of the network of lines used by personal rapid transit. Vehicles would drive from the streets onto the guide way at selected PRT stations. Shown below is a small car entering the network through an inspection point, a destination encoder and an automated fare collector.

Dual mode personal vehicle systems would give the same service for persons who did not own or know how to drive an automobile as would the personal rapid transit system. They would use public vehicles on the automatic guide ways, and would walk or transfer to other systems for local trips. However, the guide ways also would be accessible to privately owned or leased vehicles which could be routed on and off ramps connecting with ordinary streets, and driven over the streets to the driver's destination just as in the case of an automobile. At the point of destination, the vehicles could be parked as they are today or, if they were leased for the trip, they could be turned in at local connection points for redistribution to other users. This last method has the advantage of minimizing parking problems in congested areas.

A dual mode system presents more technical development problems than the personal transit system. However, it should be possible to work on such problems simultaneously with the development of personal transit, and to so design personal transit systems for ultimate dual mode use. The earliest developmental problems will be in the adaptation of propulsion, suspension, and guidance systems for use on both automatic guide ways and regular streets. None of them seems insurmountable in the light of present knowledge.

Propulsion on the guide way, as in the case of the personal transit system, would almost certainly be electric, probably using third rail power distribution in prototypes. In the final development of the system, however, propulsion might be a version of the linear motor discussed previously. Vehicles would thus need an electric motor; off the guide way they would run on batteries or use a separate engine to generate power for the electric motor.

Since these are the directions in which propulsion technology for ordinary automobiles may evolve to achieve reductions in air pollution, the propulsion problems of a dual mode personal vehicle are likely to be solved well before its other problems.

The most difficult technical problems are those associated with the development of a control system. Two different courses are possible. One is to concentrate the burden of control in the automated guide way (using equipment like linear synchronous motors and wayside computers); the other is to concentrate it in the capsules. The cost and complexity of the guide ways would be reduced if the controls were in the capsule, but the controls could be damaged when the capsules were off the guide way and being driven by individuals, and there could be additional safety hazards. The personal rapid transit system described earlier could operate at less than 10 cents per passenger mile with 15,000 passengers per day; the dual mode system might cost as little as 7 to 8 cents per passenger mile, depending on whether the vehicles were privately or publicly owned.

If research and development of personal rapid transit and the dual mode system were undertaken in concert, the principal costs for guide ways, controls, and propulsion systems could be shared. The development, test, and evaluation of street vehicles which could also operate automatically on the guide ways could add $150 million to the previous $250 million estimate. While one first-generation form of the dual mode system could be demonstrated in less than 10 years at a cost of less than $35 million, the full-scale development, test, and evaluation of a compatible personal rapid transit and small dual mode vehicle system would be a more uncertain venture and could require a total of about 10 years and $400 million.

1.    Muniandy R., Radin Umar Radin Sohadi. Highway Materials, A Guide Book For Beginners. University Putra Malaysia: Penerbit Universiti Putra Malaysia; 2010.
2.    Paul H.W., Karen K.D. Highway Engineering [Seventh Edition]. USA: John Wiley & Son; 2003.
4.    Planes, Trains, and Automobiles (of the Future) Available from: URL
Related Posts with Thumbnails